Demam kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus menghebohkan berbagai sektor, namun beberapa analis mengingatkan akan potensi bahaya yang menyertainya. Dalam pandangan mereka, kekhawatiran pembiayaan yang berputar di antara perusahaan-perusahaan AI bisa menimbulkan efek mirip gelembung teknologi yang pernah terjadi pada awal 2000-an.
Salah satu tokoh yang menyuarakan pandangan ini adalah Chief Investment Officer DBS Bank, Hou Wey Fook. Menurutnya, fenomena ini mirip dengan apa yang terjadi pada gelembung teknologi, media, dan telekomunikasi (TMT) yang berakhir dengan keruntuhan di pasar saham.
Pembiayaan sirkular dalam AI menjadi perhatian utama dalam analisis Wey Fook. Proses ini menggambarkan bagaimana uang terus berputar antara perusahaan AI, investor, dan penyedia cloud, menciptakan ekosistem yang bisa berisiko jika tidak diimbangi dengan pendapatan yang nyata.
Pemahaman Tentang Pembiayaan Sirkular di Era AI
Pembiayaan sirkular mengacu pada aliran modal yang terjadi di dalam industri AI, yang melibatkan investasi dari perusahaan besar ke startup AI dan kembali lagi ke perusahaan-perusahaan tersebut. Wey Fook menekankan bahwa meskipun adanya risiko, modal ini penting untuk mendukung pertumbuhan infrastruktur AI yang memadai.
Misalnya, saat NVIDIA berinvestasi di startup AI, mereka juga memperkuat penggunaan platform mereka dalam pelatihan dan inferensi AI. Siklus ini menyebabkan startup mencari lebih banyak dana untuk membeli chip dari NVIDIA, yang melanjutkan siklus positif ini tanpa jaminan pendapatan yang stabil.
Penting untuk mencatat bahwa CEO berbagai perusahaan teknologi besar sepakat bahwa pembiayaan sirkular sangat diperlukan pada tahap awal revolusi industri keempat ini. Tanpa dukungan finansial yang kuat, inovasi dan penambahan kapasitas penyimpanan data mungkin terhambat.
Perbedaan Antara Era Dot-Com dan Saat Ini
Salah satu perbedaan mencolok antara era dot-com dan sekarang adalah sumber pembiayaan untuk belanja modal. Pada masa lalu, banyak perusahaan menggunakan utang besar untuk membangun infrastruktur mereka, sedangkan saat ini perusahaan-perusahaan seperti Microsoft dan Google berupaya mendanai pusat data menggunakan arus kas operasional.
Contohnya, Apple dan NVIDIA menunjukkan bahwa mereka mampu mengembangkan bisnis dengan kebutuhan capex yang lebih rendah. Mereka tidak hanya mengandalkan utang, tetapi juga memanfaatkan model bisnis yang efisien.
Wey Fook menekankan bahwa Apple memiliki ekosistem yang besar dengan jutaan perangkat aktif yang menjamin margin keuntungan tinggi dari layanan berulang, seperti App Store dan iCloud, membuat mereka berada dalam posisi yang lebih kuat dibandingkan perusahaan dot-com yang tidak memiliki pendapatan yang jelas.
Apa yang Membuat AI Berbeda dari Sebelumnya?
Menurut Wey Fook, pertumbuhan pendapatan yang substansial dari perusahaan-perusahaan teknologi besar saat ini mengurangi kemungkinan terjadinya gelembung seperti di masa lalu. Banyak perusahaan teknologi yang mumpuni diperkirakan akan terus menunjukkan pertumbuhan dua digit dalam beberapa tahun ke depan.
Di Amerika Serikat, diperkirakan bahwa pertumbuhan terbesar akan berasal dari pengeluaran terkait AI. Tanpa pengeluaran ini, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan kemungkinan akan mengalami stagnasi, terutama di sektor konsumsi dan perumahan.
Meskipun demikian, ada kekhawatiran mengenai dampak besar dari belanja modal yang berkelanjutan. Wey Fook menunjukkan bahwa margin keuntungan perusahaan bisa tertekan, berpotensi menyebabkan koreksi pada harga saham perusahaan teknologi di masa mendatang.
Masih Ada Harapan untuk Pertumbuhan di Masa Depan
Pandangan optimis Wey Fook menekankan bahwa meskipun ada tantangan dalam jangka pendek, prospek jangka panjang untuk pertumbuhan pendapatan tetap positif. Dia menyarankan agar investor tetap fokus pada perusahaan-perusahaan AI unggulan hingga tahun 2026.
Wey Fook turut menyoroti adanya diskusi yang lebih luas mengenai inovasi dan kebutuhan akan infrastruktur yang lebih baik untuk mendukung industri AI. Investasi yang tepat pada tahap awal ini bisa membawa dampak yang positif bagi perkembangan teknologi di masa mendatang.
Dengan mengingat pelajaran dari masa lalu dan memanfaatkan peluang yang ada, industri teknologi dapat beradaptasi dan tumbuh dengan cara yang lebih berkelanjutan. Keseimbangan antara inovasi dan pendapatan yang realistis akan menjadi kunci untuk mencegah terjadinya gelembung yang tidak diinginkan.
