PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) baru-baru ini mencuri perhatian publik akibat klaim yang beredar mengenai lokasi kantor pusat perusahaan. Dalam klarifikasinya, manajemen DADA menegaskan bahwa informasi yang menyebutkan bahwa kantor mereka berlokasi di warung kelontong adalah tidak benar. Klarifikasi ini disampaikan oleh Direktur mereka, Bayu Setiawan, melalui saluran keterbukaan informasi.
Masalah ini muncul ketika Bursa Efek Indonesia meminta bukti fisik tentang lokasi kantor DADA. Sebagai respons, manajemen merilis foto yang menunjukkan tampak depan kantor mereka yang berlokasi di dalam Dave Apartment. Lokasi yang sebenarnya adalah area komersial yang telah dibangun dan dikembangkan oleh perusahaan.
DADA juga menambahkan bahwa alamat resmi mereka terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan mencerminkan tempat di mana perusahaan menjalankan aktivitas operasionalnya sehari-hari. Informasi yang salah ini berpotensi menimbulkan kerisauan di kalangan investor dan pemegang saham.
Perkembangan Saham DADA Dalam Beberapa Bulan Terakhir
Dalam beberapa bulan terakhir, saham DADA menjadi sorotan di pasar bursa. Munculnya rumor yang menyatakan bahwa perusahaan ini akan diakuisisi oleh grup investasi besar asal Amerika, The Vanguard Group, menyebabkan lonjakan luar biasa terhadap nilai saham. Rumor ini membuat banyak investor berbondong-bondong untuk membeli saham DADA, berharap akan ada kenaikan signifikan.
Saham DADA mengalami kenaikan drastis dari level 9 pada awal tahun hingga mencapai 33 di awal September 2025. Lonjakan ini berlanjut hingga saham DADA berhasil menutup perdagangan di level 178 pada 8 Oktober 2025. Namun, di balik kenaikan yang menggembirakan ini, terdapat sejumlah tindakan yang menimbulkan risiko bagi investor.
Pada saat yang sama, pengendali DADA mulai menarik diri. PT Karya Permata Inovasi Indonesia, sebagai pengendali utama yang semula menguasai lebih dari 66% saham, kini mengurangi kepemilikan mereka secara dramatis. Ini menjadi sinyal peringatan bagi para investor, mengingat kepemilikan saham kini hampir sepenuhnya dikuasai oleh investor ritel.
Perubahan Dalam Komposisi Pemegang Saham
Komposisi pemegang saham DADA mengalami perubahan drastis dalam waktu yang singkat. Pada akhir Juli 2025, PT Karya Permata Inovasi Indonesia memiliki sebanyak 4.922.137.600 saham, atau 66,23% dari total saham beredar. Namun, angka tersebut turun signifikan menjadi 2.200.000.000 saham, yang setara dengan hanya 29,6% pada akhir Oktober 2025.
Hal ini menunjukkan bahwa banyak investor ritel kini memegang saham DADA, yang kini mencapai 70,4% total kepemilikan. Meskipun saham DADA nampak kuat, adanya pengendalian yang berpindah ke investor ritel mengisyaratkan risiko volatilitas yang lebih besar di masa depan. Investor ritel sering kali terpengaruh oleh informasi yang beredar di pasar.
Dalam konteks ini, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa saham DADA tidak hanya menghadapi tekanan dari perubahan struktural pemegang saham, tetapi juga dari dinamika rumor yang beredar di pasar. Begitu banyak investor yang tertarik dengan potensi akuisisi sementara beberapa yang lain merasa was-was dan mulai menjual saham mereka.
Menilai Resiko dan Potensi DADA ke Depan
Pemegang saham dan calon investor DADA sebaiknya memperhatikan situasi ini dengan seksama. Meskipun ada potensi kenaikan yang dapat datang dari akuisisi atau perkembangan lainnya, risiko juga sangat nyata. Investor perlu mengevaluasi posisi mereka dan memahami bahwa pasar saham dapat sangat fluktuatif.
Dengan adanya faktor-faktor tertentu, termasuk pengendalian saham yang berpindah dan rumor yang terus berkembang, investor harus lebih bijak dalam mengambil keputusan. Mereka sebaiknya tidak hanya melihat potensi keuntungan tetapi juga risiko yang ada.
Dalam jangka panjang, DADA harus meneguhkan posisinya di industri dan membangun kepercayaan di kalangan investor. Keberhasilan mereka akan sangat tergantung pada bagaimana mereka mengelola informasi serta berkomunikasi secara transparan dengan pemangku kepentingan.
