PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. telah mengumumkan perubahan penting terkait penggunaan dana dari Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD). Perubahan ini melibatkan alokasi dana yang mencapai Rp 23,6 triliun, dengan penekanan pada tujuan yang strategis dan efisien dalam pengelolaan dana.
Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), total dana yang direncanakan telah mengalami penyesuaian dari US$ 1,846 miliar menjadi Rp 23,6 triliun. Hal ini menunjukkan adanya perubahan dalam strategi pendanaan perusahaan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan finansial dan operasional.
Penggunaan dana PMTHMETD ini direncanakan akan menekankan pada dua aspek utama, yakni modal kerja dan peningkatan modal kepada anak perusahaan. Ini menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan operasional dan pengembangan perusahaan ke depannya.
Selanjutnya, rincian anggaran juga menunjukkan bahwa alokasi untuk PAYLOAD dan operasional akan meningkat. Ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk melakukan perbaikan dan perawatan pesawat yang lebih baik agar kualitas layanan tetap terjaga.
Pembagian Alokasi Dana PMTHMETD untuk Operasional dan Peningkatan Modal
Dari total PMTHMETD, sebesar 36,78% atau Rp 8,7 triliun akan dialokasikan untuk modal kerja. Angka ini sebelumnya hanya sekitar 29%. Fokus alokasi ini mencakup biaya perawatan dan perbaikan pesawat yang diperlukan untuk mempertahankan operasional yang optimal.
Secara rinci, dana sebesar 7,7% diperoleh dari Sumber Keuangan Lain (SHL), sementara 29,08% berasal dari penambahan modal tunai yang direncanakan untuk pesawat tertentu. Ini memberikan wacana positif terhadap pengelolaan aset dan peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan.
Manajemen perusahaan menegaskan bahwa perawatan dan perbaikan pesawat akan dijalankan oleh GMF atau MRO lainnya yang sesuai dengan perjanjian yang telah disusun. Ini merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa semua proses perawatan mematuhi standart yang ditentukan.
Peningkatan efisiensi dalam pengelolaan modal juga menjadi perhatian penting. Dengan alokasi dana yang jelas, Garuda Indonesia berusaha untuk mengurangi dampak risiko strategis dan memastikan bahwa semua komponen operasional berjalan dengan baik.
Peningkatan Modal untuk Citilink dan Rencana Pembiayaan
Selanjutnya, sebanyak 63,22% dari total alokasi PMTHMETD, yaitu Rp 14,96 triliun, direncanakan untuk meningkatkan modal kepada Citilink. Ini akan difokuskan pada konversi pinjaman pemegang saham menjadi modal serta penyetoran modal tunai yang diperlukan.
Perubahan fokus ini bertujuan untuk mendukung Citilink dalam menghadapi tantangan pasar yang semakin kompetitif. Dengan penambahan modal yang memadai, diharapkan Citilink dapat bertahan dan bahkan tumbuh lebih baik di pasar penerbangan nasional.
Peningkatan modal untuk Citilink ini direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Desember 2025. Adapun rincian penggunaan dana ini mencakup 47,45% dari total, yang berasal dari konversi SHL dan modal tunai untuk biaya operasional.
Khususnya, dana ini juga akan digunakan untuk menutupi utang pokok Citilink terkait pembayaran bahan bakar. Dengan langkah ini, Garuda Indonesia menunjukkan upaya untuk mengelola utang dan mengoptimalkan sumber daya yang ada.
Pentingnya Strategi Restrukturisasi bagi Masa Depan Perusahaan
Strategi restrukturisasi yang dijalankan oleh Garuda Indonesia ini sangat penting untuk menghindari dampak risiko yang dapat mempengaruhi operasional dan sosial. Dengan demikian, langkah ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan perusahaannya di masa depan.
Peningkatan modal yang difokuskan pada Citilink tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan. Hal ini adalah upaya untuk memastikan pengalaman pelanggan yang lebih baik dalam setiap penerbangan.
Garuda Indonesia juga menegaskan bahwa restrukturisasi ini bertujuan untuk memberikan landasan yang kuat dalam menghadapi tantangan yang ada. Dengan langkah ini, diharapkan perusahaan dapat beradaptasi dengan perubahan yang ada di industri penerbangan.
Pada akhirnya, keberhasilan restrukturisasi ini akan sangat tergantung pada implementasi strategi yang efektif dan pemantauan berkala terhadap kemajuan yang dicapai. Ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan untuk terus tumbuh dan berinovasi.
