Dalam beberapa tahun terakhir, mobil listrik atau electric vehicle (EV) semakin menarik perhatian di industri otomotif Indonesia. Pertumbuhan penjualannya hingga mencapai 12,8% pada tahun 2025 menunjukkan adanya potensi yang besar, meskipun masih dihantui berbagai tantangan yang harus dihadapi.
Tantangan utama yang dihadapi penjualan mobil listrik adalah infrastruktur yang masih terbatas. Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) mayoritas berlokasi di kota-kota besar seperti Jakarta, menjadikannya sulit diakses bagi pengguna di daerah lain.
Selain isu infrastruktur, harga jual kembali kendaraan listrik menjadi perhatian utama. Masyarakat cenderung menganggap kendaraan sebagai aset investasi, sehingga fluktuasi nilai jual kembali bisa memengaruhi keputusan mereka untuk beralih ke kendaraan listrik.
Mengapa Infrastruktur Penting untuk Pengembangan Mobil Listrik?
Ketersediaan infrastruktur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan mobil listrik. Tanpa adanya stasiun pengisian yang memadai, konsumen akan ragu untuk beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik.
Di negara lain, misalnya, pengembangan infrastruktur charger lebih cepat dilakukan. Hal ini memungkinkan masyarakat untuk lebih mudah mengakses dan menggunakan mobil listrik dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Lebih jauh lagi, dukungan dari pemerintah menjadi kunci dalam mempercepat pengembangan infrastruktur ini. Investasi dalam proyek-proyek tersebut dapat membantu menciptakan ekosistem yang lebih ramah bagi kendaraan listrik.
Tantangan Harga Jual Kembali Kendaraan Listrik
Harga jual kembali kendaraan listrik juga menjadi isu kritis di pasar otomotif. Kendaraan listrik seringkali mengalami penurunan nilai yang lebih cepat dibandingkan kendaraan konvensional.
Hal ini membuat konsumen lebih enggan untuk berinvestasi dalam mobil listrik, karena mereka khawatir nilai aset mereka akan berkurang signifikan dalam waktu singkat. Kesadaran akan hal ini harus ditingkatkan melalui edukasi dan informasi yang jelas.
Industri otomotif perlu fokus untuk menciptakan nilai tambah bagi kendaraan listrik, bukan hanya dari segi performa, tetapi juga dari segi nilai jual kembali. Dengan demikian, kepercayaan konsumen dapat dipulihkan.
Peran Pemerintah dalam Mendukung Penjualan Mobil Listrik
Pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan iklim yang mendukung penjualan mobil listrik. Kebijakan perpajakan yang lebih mendukung bisa menjadi langkah yang signifikan dalam mendorong pertumbuhan penetrasi pasar EV.
Contohnya, pajak tahunan untuk mobil konvensional di Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain seperti Malaysia dan Thailand. Ini dapat menghambat minat masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik.
Dengan mengurangi beban pajak, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap manfaat kendaraan listrik dapat meningkat. Langkah ini tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tetapi juga untuk lingkungan.
