Di tengah hiruk-pikuk kehidupan Jakarta, di sebuah permukiman di Cideng, terdapat kisah unik yang melibatkan warga bernama Lie K.S. Berbeda dengan kebiasaan banyak orang yang menaruh barang berharga di brankas atau bank, Lie memilih cara yang tidak biasa—menyimpan kekayaan di dalam tanah.
Kebiasaan Lie ini didasarkan pada keyakinan bahwa barang yang terpendam jauh lebih aman daripada yang diletakkan secara kasat mata. Salah satu kekayaan yang disimpannya adalah emas seberat 6 kg yang dikebumikan di rumahnya sendiri sejak tahun 1958, sebagai warisan keluarga dan hasil kerja kerasnya.
Emas tersebut terdiri dari tiga batang seberat 2 kg dan beberapa koleksi koin dari zaman kuno. Dalam wawancaranya, Lie menjelaskan bahwa tujuannya adalah agar ia dapat menggunakan kekayaan tersebut di masa tuanya.
Barang-barang berharga itu disimpan dalam botol bekas dan dikubur sedalam 40 sentimeter di area dapur rumahnya. Namun, seiring berjalannya waktu, Lie mendapati bahwa keputusan tersebut mengantarkannya pada sebuah masalah besar setelah 11 tahun kemudian.
Pembangunan dan Renovasi yang Berujung Malapetaka
Pada tahun 1969, Lie memutuskan untuk merenovasi rumahnya. Ia menghubungi seorang kontraktor dan menetapkan aturan bagi para pekerja agar tidak menyentuh area dapur tempat emasnya tersimpan. Keputusan ini diambil semata-mata untuk menjaga kekayaan yang selama bertahun-tahun disimpannya dengan hati-hati.
Sayangnya, saat renovasi berjalan, kontraktor tidak mengingatkan para kuli tentang keberadaan barang berharga tersebut. Ketika renovasi selesai, Lie sangat terkejut ketika mengetahui bahwa semua emas yang dikubur telah lenyap.
Lie merasakan kerugian yang sangat besar, mengingat harga emas saat itu yang melebihi jutaan rupiah. Kerugian tersebut menghantarkannya pada sebuah pencarian yang melelahkan dan penuh harapan untuk mendapatkan kembali emas yang hilang.
Ketika kontraktor melaporkan peristiwa ini ke pihak berwenang, polisi langsung turun tangan. Namun, segala upaya awal menemui jalan buntu karena para kuli yang terlibat dalam proyek tersebut sudah pulang ke kampung halaman masing-masing.
Keberhasilan Polisi dan Penangkapan Pelaku
Meskipun situasi tampak hopeless, kepolisian tidak menyerah. Dalam waktu yang relatif cepat, mereka berhasil menangkap tiga pekerja di Cirebon dan dua lainnya di Jakarta. Salah satu dari mereka adalah Tasmah, pekerja yang pertama kali menemukan emas tersebut.
Ternyata, Tasmah telah menjual emas itu ke toko emas di Senen, dan kemudian membagi hasil penjualannya dengan rekan-rekannya. Namun, pembagian itu tidak merata; Tasmah mendapatkan bagian yang jauh lebih besar dibandingkan para kuli lainnya.
Dalam pemeriksaan lebih lanjut, terungkap bahwa Tasmah telah berbohong mengenai nilai emas yang dijual, mengklaim harganya lebih rendah dari harga pasar yang sebenarnya. Hal ini jelas menggangu keadilan bagi para kuli lainnya yang terlibat.
Meski demikian, berkat kerja keras kepolisian, sebagian besar emas yang hilang akhirnya berhasil disita kembali. Lie bernapas lega ketika mengetahui bahwa harta yang sudah lama disimpannya kini berada di tangannya lagi meskipun trauma dari peristiwa tersebut tetap tersisa.
Pelajaran dari Kisah Unik Ini untuk Setiap Orang
Keberhasilan Lie dalam mendapatkan kembali emasnya membawa pelajaran berharga bagi kita semua. Kesalahan dalam penyimpanan barang berharga bisa berakhir tragis, bahkan saat dilakukan dengan niatan terbaik. Pikirkanlah secara cermat sebelum memutuskan tempat untuk menyimpan kekayaan Anda.
Pengalaman Lie menjadi pengingat bahwa kehati-hatian dan persiapan bisa membuat perbedaan besar. Keputusan untuk menyimpan barang berharga di tempat yang tidak terlihat dapat memberikan ketenangan pikiran, namun juga perlu diimbangi dengan tindakan preventif untuk melindunginya.
Rencanakan dengan baik dan diskusikan dengan orang-orang terdekat jika perlu, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Dengan memahami risiko yang ada, kita dapat lebih siap menghadapi segala kemungkinan.
Karena pada akhirnya, tidak ada yang lebih berharga daripada keamanan dan kenyamanan kita dalam menghadapi masa depan.
